Di sudut kota Temanggung, tepatnya di sekitar Polres lama, berdirilah sebuah rumah sederhana yang mulai termakan usia. Catnya memudar, pagar kecilnya berkarat, dan halaman depannya sepi—seolah waktu berjalan lebih lambat di sana.
Di rumah itu tinggal sepasang suami istri paruh baya: Pak Wiryo dan Bu Sulastri. Rambut mereka telah memutih, langkah mereka lambat, dan hari-hari mereka kini diisi dengan rutinitas yang sunyi. Dulu, rumah itu ramai oleh anak-anak. Kini, hanya ada desah napas, suara kipas angin, dan sesekali batuk yang memecah kesunyian.
Anak-anak mereka telah lama merantau ke Jakarta. Katanya demi masa depan yang lebih baik, sesekali ada kiriman uang, sesekali telepon singkat. Namun kehadiran itu menjadi sesuatu yang kian jarang.
Pagi itu, Bu Sulastri membantu Pak Wiryo bersiap. Hari kontrol ke rumah sakit, sejak terkena strike dua tahun lalu tubuh Pak Wiryo tak lagi bisa diandalkan seperti dulu.
Perjalanan ke rumah sakit berjalan seperti biasa. Pemeriksaan selesai, obat diperbarui, dan nasihat dokter kembali diulang. Ketika hendak pulang, Pak Wiryo bersikeras berjalan kaki.
“Ingin melatih kaki,” katanya pelan.
Bu Sulastri hanya mengangguk, meski kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya.
Namun setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sudah lumayan dekat dengan rumah persis di depan tugu jam Temanggung, tubuh Pak Wiryo tiba-tiba melemah.
“Nduk... aku kok rasane lemes...” ucapnya lirih.
Langkahnya goyah, wajahnya pucat, nafasnya tersenggal. Tubuhnya hampir roboh jika Bu Sulastri tidak segera menopangnya.
Di saat itulah, tiga orang melintas.
Dua perempuan dan satu laki-laki muda.
Mereka berhenti, saling pandang sejenak, lalu tanpa ragu langsung menghampiri.
“Mbah, kenapa?” tanya salah satu perempuan yang tampak lebih dewasa.
Tanpa banyak tanya, mereka sigap membantu. Laki-laki muda itu memapah tubuh Pak Wiryo, sementara kedua perempuan menenangkan Bu Sulastri. Salah satu dari mereka berinisiatif meminta bantuan warga.
Tak lama, seorang warga datang membawa kursi roda.
“Kulo nyilihke niki nggih...” ucapnya ramah.
Dengan hati-hati, Pak Wiryo didudukkan di kursi roda itu. Nafasnya masih berat, namun setidaknya ia tak lagi dipaksa berdiri.
Perjalanan pulang pun berubah, bukan lagi langkah yang tertatih melainkan roda yang berderit pelan di jalanan kota.
Laki-laki muda itu sesekali menatap wajah Pak Wiryo. Entah mengapa, bayangan ayahnya muncul begitu saja.
“Bapak saya juga... sudah mulai sering sakit,” ucapnya pelan.
“Dimana sekarang?” tanya perempuan muda di sampingnya.
“Di kampung... saya di sini kuliah.”
Jawaban itu sederhana, tetapi menyisakan beban yang tak ringan, ia kembali terdiam.
Tangannya tetap mendorong kursi roda, tetapi pikirannya berjalan jauh—menuju rumah yang jarang ia pulangi.
Sesampainya di depan rumah Pak Wiryo, mereka semua terdiam.
Rumah itu begitu sunyi.
Tak ada suara televisi, tak ada aktivitas, bahkan tak ada tanda kehidupan selain pintu yang tertutup dan halaman yang lengang.
Seolah rumah itu kosong.
Atau mungkin... hanya terlalu lama ditinggalkan oleh keramaian.
Bu sulastri membuka pintu perlahan, engselnya berdecit, memecah keheningan yang pekat. Mereka membantu mendorong kursi roda masuk ke dalam.
Di dalam, suasana tak jauh berbeda.
Sepi, hening, kosong.
“Memang... kami hanya berdua di sini...” ucap Bu Sulastri pelan.
Kalimat itu sederhana, namun terasa dalam.
Mereka bertiga saling pandang, tak ada kata yang keluar tetapi semua memahami.
Setelah memastikan Pak Wiryo duduk dengan nyaman, mereka pamit.
“Terima kasih ya, Nak... semoga kalian selalu diberi kesehatan,” ucap Bu Sulastri dengan mata berkaca-kaca.
Mereka hanya membalas dengan senyum.
Namun saat melangkah pergi, langkah mereka terasa berbeda terutama laki-laki muda itu. Ia berjalan paling belakang, lebih pelan, lebih berat.
Di dalam kepalanya, hanya ada satu bayangan: Rumahnya sendiri, ayahnya, ibunya.
Dan satu pertanyaan yang terus berulang:
“Kalau suatu hari bapak saya seperti itu... siapa yang akan ada di sampingnya?”
Langkahnya sempat terhenti, ia menunduk, untuk pertama kalinya sejak merantau ia benar-benar merasakan arti jarak. Bukan sekadar tentang jauh, melainkan tentang kehadiran yang tertunda.
Ada banyak cara untuk berbakti kepada orang tua: Memberi uang, memberi kabar, mendoakan.
Namun satu hal yang sering kita lupakan: ....Kehadiran.
Karena pada akhirnya, ketika usia membuat mereka rapuh, yang mereka butuhkan bukan hanya bantuan...
Melainkan kita.
Pena Amerta.
Temanggung, 08 April 2026.
0 Komentar