Sebagai mahasiswa pendidikan, membaca memoar otobiografi Mr. Sosaku Kobayashi karya Tetsuko Kuroyanagi “Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela”, yang berlatar belakang tahun 1940-an soal sistem pendidikan di sekolah alam Tomoe Gakuen, Jepang yang walaupun sudah ada jauh lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka tapi terasa mind blowing ketika membacanya. Selalu terbesit, “Kok kepikiran ya?” dengan keunikan yang dicetuskan oleh Mr. Sosaku Kobayashi-selaku kepala sekolah Tomoe Gakuen, seperti menggunakan gerbong kereta bekas sebagai ruang-ruang kelas!
Mengadopsi Euritmik- metode pendidikan musik yang diciptakan oleh Èmile Jaques-Dalcorze. Metode ini melatih fokus peserta didik dikarenakan mengintegrasikan gerakan (euritmik), solfoge (pelatihan pendengaran), dan improvisasi untuk memperkuat hubungan antara tubuh, pikiran, dan musik. Maka benarlah ketika banyak ahli yang menyarankan agar lebih dulu melatih fokus anak ketimbang belajar Calistung (baca, tulis, dan menghitung), sebab dalam salah satu cerita di buku ini memperlihatkan bagaimana peserta didik bisa membaca buku, menyanyi, menulis, bermain alat musik, melakukan eksperimen fisika, dan kegiatan belajar lainnya dalam satu ruang yang sama tanpa merasa terganggu. Uniknya lagi ketika peserta didik dapat mengerjakan pelajaran dengan urutan yang diinginkan, tidak seperti sistem pendidikan umumnya yang sudah terjadwal pasti waktu dan mata pelajarannya, hal ini membantu anak mengembangkan bakatnya. Bagaimana Mr. Kobayashi memahami anak-anak dengan penerapan pendidikan yang humanis melalui metode pendidikan ramah anak.
Sewaktu dompet kesayangan Totto-chan jatuh di kloset dan mengeluarkan seluruh isi pembuangan terakhir untuk mencari, yang dilakukan Mr. Kobayashi tidaklah marah, tetapi malah bertanya apakah Totto-chan akan mengembalikan kotoran yang dikeluarkan ke tempatnya kembali. Juga sewaktu peserta didik menggunakan lantai kayu untuk menggambar dengan kapur dengan risiko membersihkan lantai tersebut sendiri, kedua hal ini mengajarkan soal tanggung jawab.
Buku ini menyadarkan bagaimana pentingnya pendidikan yang memahami fitrah anak. Perlakukan anak-anak sebagai anak-anak, bermain tanpa takut kotor seperti kebijakan yang diterapkan sekolah Tomoe tidak menggunakan seragam formal tapi memakai pakaian terjelek yang dimiliki. Secara umum buku ini tidak hanya bercerita tentang dunia anak-anak, tapi menyentuh sisi lain seperti sistem pendidikan sekolah, dan parenting.
(Bahirrr)

0 Komentar