Grebeg Gumuk Kembang: Wujud Rasa Syukur dengan Merawat Budaya dan Melestarikan Tradisi

 Deru gamelan mengalun syahdu, berpadu dengan langkah warga yang beriringan menuju Gumuk Kembang. Pagi itu, udara desa terasa berbeda, lebih khidmat, namun juga penuh sukacita. Inilah Grebeg Gumuk Kembang. Sebuah tradisi yang bukan sekadar perayaan, melainkan wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan sekaligus komitmen bersama untuk merawat budaya warisan leluhur.

 Ekaning bawana, wulang sarga, marganing praja raharja-Bersatunya masyarakat, belajar dari alam untuk menuju masyarakat damai dan sejahtera. Tema kegiatan Grebeg Gumuk Kembang pada Sabtu (31/01/2025) dengan kirab gunungan palawija, tumpeng, ogoh-ogoh, dan patungan replika Ganesha mengelilingi Dusun Candi, Candisari, Bansari, Temanggung. Di tangan para warga, hasil bumi tertata rapi dalam gunungan, simbol kemakmuran sekaligus rasa syukur.

 Grebeg Gumuk Kembang tumbuh dari kesadaran bersama bahwa alam, Tuhan sebagai sinergi spiritualitas, dan manusia hidup dalam ikatan yang saling menguatkan. Gumuk Kembang yang dipercaya sebagai ruang sakral dan penanda sejarah lokal, menjadi pusat ritual tahunan. Melalui grebeg, masyarakat mengungkapkan terima kasih atas rezeki, keselamatan, dan keharmonisan yang terus terjaga, sembari memohon keberkahan untuk masa depan. 

 Prosesi dimulai dengan pembukaan beserta sambutan juga penyampaian filosofi dan sejarah Gumuk Kembang. Suasana hening menyelimuti kerumunan, menghadirkan rasa kebersamaan yang jarang ditemui di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Setelah itu, arak-arakan gunungan bergerak perlahan menuju Gumuk Kembang. Setiap susunan hasil bumi seperti padi, palawija, sayur-mayur, hingga buah-buahan, menjadi simbol kerja keras petani dan hubungan harmonis manusia dengan alam. Setelahnya pengadaan penanaman wiwit mbako yang menjadi identitas warga Temanggung di tanah depan Gumuk Kembang, lalu doa bersama yang dipimpin tokoh adat dan sesepuh desa, dilanjut rebutan gunungan dengan binar semangat masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. 

 Tak hanya ritual, Grebeg Gumuk Kembang juga menjadi panggung hidup bagi ekspresi seni tradisi. Tarian rakyat, tabuhan gamelan, hingga pertunjukan kesenian lokal ditampilkan oleh warga lintas generasi. Anak-anak menari dengan mata berbinar, sementara para orang tua tersenyum bangga, sebuah pemandangan yang menegaskan bahwa tradisi tidak sekadar dikenang, tetapi diwariskan.

 Di balik kemeriahannya, grebeg menyimpan nilai edukatif yang kuat. Generasi muda belajar tentang makna gotong royong, penghormatan pada alam, serta pentingnya menjaga identitas budaya. Tradisi ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus menanggalkan akar, justru dengan memahami asal-usul, masyarakat dapat melangkah lebih mantap ke depan.

 Grebeg Gumuk Kembang juga berfungsi sebagai ruang temu sosial. Warga yang merantau pulang, silaturahmi terjalin, dan perbedaan melebur dalam satu tujuan, merayakan kehidupan. Dalam konteks ini, budaya menjadi perekat sosial yang efektif menguatkan rasa memiliki dan solidaritas.

 Upaya pelestarian tradisi ini tidak lepas dari peran komunitas, tokoh adat, dan generasi muda sebagai panitia yang aktif terlibat dalam perencanaan hingga pelaksanaan. Dukungan pemerintah desa dan kolaborasi dengan pelaku seni turut memastikan grebeg tetap relevan tanpa kehilangan ruhnya. Inovasi dilakukan secukupnya, menata acara lebih rapi dan memperluas partisipasi, namun nilai inti tetap dijaga. 

 Pada akhirnya, Grebeg Gumuk Kembang adalah pengingat bahwa rasa syukur dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dengan merawat budaya, melestarikan tradisi, dan menjaga keseimbangan dengan alam. Di tengah arus globalisasi, tradisi ini berdiri tegak sebagai penanda jati diri, bahwa kearifan lokal masih hidup, bernapas, dan terus menemukan maknanya di masa kini. Saat gunungan diperebutkan, ritual penutup yang sarat simbol berbagi tawa dan harapan. Grebeg usai, namun pesannya tinggal, budaya bukan sekadar masa lalu, melainkan jalan pulang yang menuntun masa depan.

Posting Komentar

0 Komentar