Jejak yang Tertinggal di Ujung Senja

Langit sore itu tampak biasa saja—jingga yang perlahan memudar, seperti hari-hari yang dilewati Crys selama delapan belas tahun hidupnya. Tak ada yang istimewa, sama seperti hidupnya yang berjalan tanpa sosok yang seharusnya menjadi penopang: Seorang ayah.

Sejak kecil, Crys hanya mengenal kata “ayah” sebagai sebuah istilah yang sering ia dengar dari teman-temannya. Baginya, itua bukan sosok, bukan kenangan, bahkan bukan luka yang jelas bentuknya. Ia hanya tahu, ibunya selalu menghindar setiap kali ia bertanya.

“Ke mana ayah? Tanya Cyrs kecil suatu malam.

Ibunya hanya tersenyum tipis, menatap ke arah jendela yang gelap.

“Ayahmu... sedang jauh”.

Jawaban itu terus berulang, hingga Crys berhenti bertanya.

Ia tumbuh menjadi pemuda yang pendiam. Bukan karena ia tak punya cerita, tetapi karena ia tak tahu harus mulai dari mana, setiap melihat teman-temannya bercanda dengan ayah mereka, ada ruang kosong dalam dirinya yang terasa semakin luas—seperti jurang yang tak bisa dilepaskan.

Namun Crys terbiasa, ia belajar menerima bahwa tidak semua orang memiliki cerita yang lengkap.

Hari itu, tepat setelah ulang tahunnya yang ke- 18, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi. Seseorang datnag ke rumahnya, Seorang lelaki berdiri di depan pintu dengan rambut yang mulai memutih dan tatapan mata yang aneh—seolah-olah ia mengenal Crys. Jauh sebelum mereka benar-benar bertemu.

Ibunya membuka pintu mendadak terdiam. Wajahnya pucat, dan untuk pertama kalinya Crys melihat ketakutan yang nytata di mata wanita itu.

“Crys...,” suara lelaki itu pelan, nyaris bergetar.

Crys mengernyit. “Siapa, Bu?”

Ibunya tidak langsung menjawab, ia hanya memejamkan mata sejenak seperti sedang mengumpulkan keberanian yang selama ini ia sembunyikan.

“Dia... ayahmu”

Dunia Crys seolah berhenti.

Kata itu—yang selama ini hanya menjadi bayangan—tiba-tiba berdiri nyata di hadapannya.

Hari-hari setelah itu terasa janggal, ayahnya yang bernama Huang mulai sering datang. Awalnya hanya duduk diam di ruang tamu, membawa buah atau makanan kecil, seperti tamu yang tidak tahu batasnya. Crys tidak pernah benar-benar menyambut, tapi juga tidak menolak.

Namun perlahan, ada sesuatu yang berubah. Huang tidak banyak bicara tetapi selalu ada, ia memperbaiki genteng bocor tanpa diminta. Ia menunggu Crys pulang di teras, hanya untuk memastikan anaknya baik-baik saja, kadang ia membawa cerita-cerita sederhana tentang pekerjaan, tentang jalanan, bahkan tentang kehidupan yang tidak pernah Crys tahu.

“Dulu, waktu kamu lahir...” Huang pernah memulai, lalu berhenti.

Crys menatapnya, menunggu.

“Tapi ya sudahlah,” lanjutnya, tersenyum pahit.

Aada banyak kalimat yang tidak pernah selesai di antara mereka.

Suatu malam, hujan turun deras. Listrik padam, dan rumah hanya diterangi cahaya lilin yang bergetar. Untuk pertama kalinya, Crys dan Huang duduk berdua tanpa perantara.

“Kenapa?” tanya Crys tiba-tiba.

Huang terdiam, “Kenapa apa?”

“Kenapa pergi?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat dari suara hujan di luar.

Huang menghela napas panjang. “Karena waktu itu... aku pikir pergi adalah cara terbaik untuk kalian.”

Crys tertawa kecil, pahit. “Cara terbaik untuk siapa?”

Huang tidak menjawab. Hanya ada diam, panjang dan melelahkan.

Namun entah kenapa, malam itu tidak terasa seperti perpisahan. Justru seperti awal dari sesuatu yang belum mereka pahami.

Hari-hari berikutnya, hubungan mereka tidak tiba-tiba membaik.

Tidak ada pelukan dramatis, tidak ada kata maaf yang menghapus semua luka.

Tapi ada hal-hal kecil.

Huang mulai mengajari Crys memperbaiki motor. Mereka sesekali tertawa, meski canggung. Kadang Crys memanggilnya “Pak”... meski terdengar kaku. Dan di dalam semua itu, ada perasaan yang perlahan tumbuh—hangat, namun rapuh.

Seperti kasih sayang yang terlambat datng.

Suatu sore, Huang mengajak Crys pergi ke sebuah tempat di pinggir kota. Sebuah bukit kecil dengan pemandangan senja yang luas. “Dulu aku sering ke sini,” kata Huang. “Waktu hidup terasa terlalu berat.”

Crys duduk di sampingnya, menatap langit yang mulai berubah warna. “Apa sekarang masih berat?” tanya Crys.

Huang tersenyum, kali ini lebih tulus. “Lebih ringan... karena akhirnya aku berani kembali.”

Crys tidak menjawab. Ia hanya menatap langit, mencoba memahami perasaan yang selama ini ia abaikan.

“Crys,” suara Huang pelan, “kalau aku diberi kesempatan... aku ingin memperbaiki semuannya.”

Angin sore berhembus pelan. Crys menoleh, menatap lelaki itu lama. “Apa semuanya bisa diperbaiki?” tanyanya.

Huang tidak langsung menjawab.

Dan untuk beberapa saat, hanya ada suara angin dan detak waktu yang berjalan pelan.

Senja itu akhirnya tenggelam, meninggalkan langit yang gelap namun tidak sepenuhnya dingin.

Crys berdiri, bersiap pulang.

Huang masih duduk, menatap ke arah cakrawala yang kini hanya menyisakan bayangan.

“Besok... kamu masih datang?” tanya Crys tanpa menoleh.

Huang tersenyum, meski Crys tidak melihatnya.

“Kalau kamu mau... aku akan datang.”

Crys mengangguk kecil.

Namun langkahnya berhenti sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi—sesuatu yang lebih penting lebih dalam.

Tapi tidak jadi, ia melanjutkan berjalan tanpa menoleh.

Dan di antara langkah-langkah itu, ada perasaan yang belum selesai. Sesuatu yang masih menggantung, seperti senja yang belum sepenuhnya hilang.

Mungkin, ini bukan akhir.

Atau mungkin... ini baru permulaan yang belum mereka mengerti.

Pena Amerta.

Temanggung, 02 April 2026.


Posting Komentar

0 Komentar